Hai… Selamat Berkelana di Semesta Ilusi Dian.^^

This is the post excerpt.

Advertisements
Featured post

Bagaimana sejatinya kejujuran bertindak dalam cinta? Kupikir, tata tertib kejujuran tak pernah benar-benar berlaku dalam cinta. Sebab, terkadang kita menjadi hamba bagi sebuah kepura-puraan—menipu diri dengan rekaan-rekaan yang kita ciptakan sendiri. Nalar yang enggan bersepakat dengan hati. Atau setelah sependapat, ada masalah baru; bersandiwara menikmati keterdiaman diri. Mencipta imaji sesuka hati agar bahagia, namun di... Continue Reading →

Kutempuh kronologi garis tangan Menimang-nimang suratan Kukantongi banyak cemas Namun terus kulanjutkan Berbaur kerajaan fana Membebaskan mengalir Semampunya Biarkan aku Beberapa jenak Terpejam khusyuk Menikmati Irama napas yang syahdu Sunyi. Hening. Damai Menyingkirkan kebisingan Mencairkan tinta asa Di atas lembar Kehidupan. . Tangerang, 24 September 2017

Mencoba berdamai dengan harapan yang pernah patah, lalu memunguti remah-remah patahannya, dan membiarkan tumbuh bukankah sama seperti menyiapkan kejutan yang barangkali sudi berpihak—atau justru malah membangkitkan kembali sebuah perasaan yang menyesakkan? Kemudian mengundang harapan benar-benar padam. . -dh-

Aku tak perlu menyiarkan padamu apapun tentangku. Sebab kamu; Tidak perlu tahu perasaanku yang sengap. Tidak perlu tahu ribuan bunga tidurku. Tidak perlu tahu nyanyian doa-doaku. Tidak perlu tahu imaji-imaji semuku. Tidak perlu tahu lemahku. Tidak perlu tahu pula air mataku. Dan, tidak perlu tahu perjuanganku. . 22 September 2017

Sebuah Memoar yang Lugu

Barangkali setiap orang mengaku bahwa dirinya kuat. Menyanggupi tak apa bila ia sendiri. Namun, terkadang ada yang dilupakan, akan tiba masanya kita mendamba keteduhan perasaan, ketulusan orang-orang—sebuah rasa yang definisinya sulit diungkap oleh kesendirian. Setiap jiwa tak mesti selalu kuat. Sebab diri perlu lubang kelemahan untuk ditambal oleh orang lain. Memberikan orang lain keluangan untuk... Continue Reading →

Kadang kita menipu diri sendiri. Memutar balik fakta. Bersandiwara dalam setiap detik yang menyakitkan. Seolah tak menggenggam gelisah saat ketakutan melongos. Tak merangkul resah ketika sepi menyergap. Menyamarkan rindu agar tak terbaca. Dan hampa yang enggan dijelaskan. . -dh-

Terkadang kita ingin mengadakan pertemuan dengan kenangan. Namun waktu terlalu angkuh untuk bisa 'pengertian' perihal rindu. Jangankan bernegoisasi, merengek-rengek pun barangkali tak akan diladeni. Sebab itu, kita suka memotret-atau dipotret, dengan bermaksud menyelamatkan remah-remah kenangan. -dh-

Hei, Aku. Selamat Ulang Tahun.

Kalau boleh aku jujur, sebenarnya aku tak begitu menyukai ulang tahun. Aku tak menyukai bahwa aku harus menerima kenyataan yang mana sejatinya usiaku berkurang. Apalagi didampingi suasana yang sama seperti biasa. Tak ada perayaan. Tak ada perlakuan spesial. Sepi. Lengang. Namun, jikalah harus aku merapal suatu doa, kan kuucap; Selamat genap 20 tahun, Aku. Semoga... Continue Reading →

Meski hadir sekelebat, momen merindukanmu merupakan hal yang amat kubenci. Entah bagaimana waktu menghipnotis, dan sisa-sisa perasaan sendu yang pernah kau lampirkan, kini aku merasa ragu cara menemukanmu kembali. Rasanya aku lupa cara jatuh cinta. Lupa rasanya mencari. Lupa rasanya percaya. Dan yang paling kronis, lupa rasanya berharap. Ah bukan, lebih tepatnya, aku hanya takut... Continue Reading →

Blog at WordPress.com.

Up ↑