Semesta Ilusi Dian!^^

This is the post excerpt.

Advertisements
Featured post

Lagi Syahdu

Ku biarkan daun berdansa di atas kepala tanpa menerka-nerka ritmenya. Hanya memberi luang untuk ia melenguh damai, beruluk salam, dan hanyut ke lembah tatap. Lalu hening. Lalu syahdu. Kau mau apa? Menjarah binar mataku? Enak saja!

Layu

Ada yang tertawa dusta: mata Ada yang resah bergempita: kepala Ada yang perih mengaduh: tubuh Ada yang telungkup mengiba: luka Ada yang meringis bergetar: bibir Ada yang tersengal lemas: napas Ada yang mengurai tenang: hening Ada yang pasang surut: takut Ada yang tengah layu: aku.

Ruang Tunggu

Terlalu banyak ketidakpedulian antarsesama di zaman sekarang. Masa bodoh dengan urusan orang lain. Yang terpenting diri sendiri. Tidak peduli lagi usia tua-muda untuk menumbuhkan rasa kepedulian. Perkembangan zaman telah melumpuhkan nilai kemanusiaan. . Beberapa menit setelah pemuda duduk, datang seorang kakek tanpa didampingi keluarga. Setelah mengambil nomor antrean pasien, ia ingin bergegas ke ruang tunggu.... Continue Reading →

21 April terpatri nama Kartini Seorang Raden Ajeng yang merapal obsesi Menyuluh bahari, mengoleksi misi Menawan gayanya binasakan diskriminasi . Kini, setiap wanita bebas meracik cara Bagaimana ia meng-Kartini-kan dirinya Mari, jangan sia-siakan revolusi wanita Setiap jiwa boleh berkarya dan bercita! ---------------------------------- Selamat Hari Kartini! . dh, 2018

Percakapan Tentang Senja

"Aku pinjam ponselmu, boleh?" kata perempuan di belakangku dengan suara cukup lantang sembari mendekatkan kepalanya ke samping telingaku. Mungkin agar aku bisa menangkap suaranya. Dering motorku di jalan raya itu cukup keras. Ditambah suara kendaraan lain yang tidak mau mengalah dan gemuruh angin yang sengaja hadir sesuai jadwalnya untuk menghibur para pengendara. Menjadikan percakapan-percakapan di... Continue Reading →

Hujan

Musim hujan, sisa air bekas hujan berniat menghibur jalanan. Melepaskan rindu permukaan jalan pada wanginya air hujan, namun kelebihan porsi dalam menimbang. Hingga membuat tubuhnya permukaan berlubang.

Membahas Dilan

Aku ingin sedikit cerita. Begini ceritanya. Tadi, selepas Maghrib, aku, Ibu, dan Mifta sedang ngobrol-ngobrol kecil. Lho, memang ada ngobrol-ngobrol besar? Sudahlah lupakan. Lanjut ke cerita, aku dan Mifta membahas perihal novel Dilan. Karena akhir-akhir ini sedang ramai sekali membahas Dilan. Mau di medsos ataupun langsung. Hmmm. Setelah filmnya keluar, aku juga rasanya ingin menonton.... Continue Reading →

Awal yang memesona hingga merembes ke nurani. Tersaji legit, hambar, sejuk, serta dikawal mendung dan pelangi. Menggamit sedu sedan sebagai penyedap, sembari gembira mengekori. Semakin mengamankan dialog-dialog syahdu di dalam kisah ini. đź’ś

Bagaimana sejatinya kejujuran bertindak dalam cinta? Kupikir, tata tertib kejujuran tak pernah benar-benar berlaku dalam cinta. Sebab, terkadang kita menjadi hamba bagi sebuah kepura-puraan—menipu diri dengan rekaan-rekaan yang kita ciptakan sendiri. Nalar yang enggan bersepakat dengan hati. Atau setelah sependapat, ada masalah baru; bersandiwara menikmati keterdiaman diri. Mencipta imaji sesuka hati agar bahagia, namun di... Continue Reading →

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑