Semesta Ilusi Dian!^^

This is the post excerpt.

Advertisements
Featured post

Hujan

Musim hujan, sisa air bekas hujan berniat menghibur jalanan. Melepaskan rindu permukaan jalan pada wanginya air hujan, namun kelebihan porsi dalam menimbang. Hingga membuat tubuhnya permukaan berlubang.

Membahas Dilan

Aku ingin sedikit cerita. Begini ceritanya. Tadi, selepas Maghrib, aku, Ibu, dan Mifta sedang ngobrol-ngobrol kecil. Lho, memang ada ngobrol-ngobrol besar? Sudahlah lupakan. Lanjut ke cerita, aku dan Mifta membahas perihal novel Dilan. Karena akhir-akhir ini sedang ramai sekali membahas Dilan. Mau di medsos ataupun langsung. Hmmm. Setelah filmnya keluar, aku juga rasanya ingin menonton.... Continue Reading →

Awal yang memesona hingga merembes ke nurani. Tersaji legit, hambar, sejuk, serta dikawal mendung dan pelangi. Menggamit sedu sedan sebagai penyedap, sembari gembira mengekori. Semakin mengamankan dialog-dialog syahdu di dalam kisah ini. đź’ś

Bagaimana sejatinya kejujuran bertindak dalam cinta? Kupikir, tata tertib kejujuran tak pernah benar-benar berlaku dalam cinta. Sebab, terkadang kita menjadi hamba bagi sebuah kepura-puraan—menipu diri dengan rekaan-rekaan yang kita ciptakan sendiri. Nalar yang enggan bersepakat dengan hati. Atau setelah sependapat, ada masalah baru; bersandiwara menikmati keterdiaman diri. Mencipta imaji sesuka hati agar bahagia, namun di... Continue Reading →

Kutempuh kronologi garis tangan Menimang-nimang suratan Kukantongi banyak cemas Namun terus kulanjutkan Berbaur kerajaan fana Membebaskan mengalir Semampunya Biarkan aku Beberapa jenak Terpejam khusyuk Menikmati Irama napas yang syahdu Sunyi. Hening. Damai Menyingkirkan kebisingan Mencairkan tinta asa Di atas lembar Kehidupan. . Tangerang, 24 September 2017

Mencoba berdamai dengan harapan yang pernah patah, lalu memunguti remah-remah patahannya, dan membiarkan tumbuh bukankah sama seperti menyiapkan kejutan yang barangkali sudi berpihak—atau justru malah membangkitkan kembali sebuah perasaan yang menyesakkan? Kemudian mengundang harapan benar-benar padam. . -dh-

Aku tak perlu mengutarakan padamu apapun tentangku. . Sebab kamu; Tidak perlu tahu perasaanku yang sengap. Tidak perlu tahu ribuan bunga tidurku. Tidak perlu tahu nyanyian doa-doaku. Tidak perlu tahu imaji-imaji semuku. Tidak perlu tahu lemahku. Tidak perlu tahu pula air mataku. Dan, tidak perlu tahu perjuanganku. . Biarkan kita mengulang sebagai dua yang asing... Continue Reading →

Sebuah Memoar yang Lugu

Barangkali setiap orang mengaku bahwa dirinya kuat. Menyanggupi tak apa bila ia sendiri. Namun, terkadang ada yang dilupakan, akan tiba masanya kita mendamba keteduhan perasaan, ketulusan orang-orang—sebuah rasa yang definisinya sulit diungkap oleh kesendirian. Setiap jiwa tak mesti selalu kuat. Sebab diri perlu lubang kelemahan untuk ditambal oleh orang lain. Memberikan orang lain keluangan untuk... Continue Reading →

Kadang kita menipu diri sendiri. Memutar balik fakta. Bersandiwara dalam setiap detik yang menyakitkan. Seolah tak menggenggam gelisah saat ketakutan melongos. Tak merangkul resah ketika sepi menyergap. Menyamarkan rindu agar tak terbaca. Dan hampa yang enggan dijelaskan. . -dh-

Blog at WordPress.com.

Up ↑