Tentang waktu ⏱ Apakah setakberdaya itu kita di hadapannya? Bukankah kita lebih nyata dari waktu? Lantas, mengapa kita selalu memasrahkan padanya? Bahkan dengan nada sok bijak seringkali kita mengucap; biar waktu yang menjawab. Kita tak lebih lemah bila dibanding waktu, bukan? Maka jangan hanya termangu dan menunggu. Waktu hanya berputar, tidak mengatur. Sementara kita tokoh... Continue Reading →

Advertisements

MELEPASKAN LUKA

Kita sama menyadari; menikmati semburat perih yang tanpa permisi menyebrangi hati. Namun, bersama mengandalkan waktu, kita bersepakat melepaskan luka ini sembuh dengan sendirinya. Meski kita tahu, konsekuensi dari epilog ini membuahkan gugusan rindu yang bisa mengusik lamunan. . . Dalam kenaifan, semoga rindu di sisiku tak abadi. . -dh-

MENJAWABMU

Ketika menamatkan 'kita', kamu bertanya, "aku masih punya janji nggak sama kamu?" Ada sih sebenarnya, janjimu yang didahului 'insya Allah' bahwa kamu akan bersetia denganku. Nah, kalau janjimu seperti itu, boleh aku menuturkannya? . -dh-

Saat kau merasa jatuh cinta, jangan terburu meminta Tuhan agar menjatuhkan hatimu sejatuh-jatuhnya pada dia. Pastikan kau benar-benar mengenal tentang dia. Tentang ketulusan dia menyematkan hatinya padamu. Tentang kepalsuannya yang terhalangi, atau sengaja ditutupi. Agar kau tak mudah kecewa saat kelak menangkap serat-serat palsu darinya. Sehingga kau takkan menyesalkan keadaan, setelah Tuhan benar-benar mengabulkan permintaanmu.... Continue Reading →

KAMU BERLALU

Ada yang baru dari kamu; hatimu memilih berlalu. Aku hanya memperkenankan. Sebab, yang dipaksakan tak mungkin mengesankan. Jadi, izinkan aku memecahkan tabungan kenangan yang hendak usang. Agar tak meniupkan kerinduan. . dh 02 Juli 2017

KILAH BERSELFIE :D

Selfie ialah hak prerogatif seseorang. Bisa jadi ia merupakan individu yang gemar mengabadikan setiap moment dalam hidupnya. Meski hampir semua foto memiliki karakteristik sama, namun takkan terlihat hambar di masa depan nanti. Sebab, kelak akan ada masa di mana kita ingin menengok kenangan, bercengkerama dengan album foto untuk memunguti potongan-potongan masa lalu. Jadi tidak usah... Continue Reading →

Terkadang kita perlu mengendapkan peribahasa: nasi sudah menjadi bubur. Sebab, agar kita tidak terlalu melampaui batas ketika merutuki kesalahan dan kebodohan yang telah usai diperbuat. . dh

Kalau kau mencoba bercanda dengan air, maka tentu badanmu akan tersiram. Kalau kau mencoba bergurau dengan api, bisa jadi kulitmu akan terbakar. Kalau kau utuh bersitatap denganku, maka bersiaplah akan tertawan hatimu.

Aku tak mengerti mengapa kita jadi seasing kini Memecahkan tabungan kenangan Hanya sebab adonan awan es melingkupi kita Menjadikannya hambar Kalau boleh, izinkan aku berterus terang kau masih menjadi aktor utama dalam bait-bait sajakku Serupa delusi, yang hanya bisa kutoreh Pada selembaran notes di hp Membentuk bingkisan puisi Mengangakan rindu, menelan waktu Tanpa kuketahui kau... Continue Reading →

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑